Technical

N+1; rahasia menjaga kehandalan sebuah sistem

Ketika kita membuat sebah perhitungan cooling load, atau beban pendinginan, pada umumnya selalu ditambahkan safety factor yang berkisar dari 10-20%. Hal tersebut ditujukan untuk meng-akomodasi hal hal yang tidak diperhitungkan secara teliti seperti loss akibat panjang, bengkokan, atau faktor kedepannya seperti usia.

Setelah mendapatkan nilai tersebut dipilih lah sebuah sistem untuk melayani beban tersebut. Sebagai contoh pada sebuah pabrik / gedung dihitung memerlukan chiller dengan kemampuan 1000TR. Apakah kemudian kira akan memilih sebuah chiller dengan kapasitas 1000TR? Hal ini memang merupakan solusi yang paling mudah dan murah. Tetapi pabrik / gedung tersebut akan langsung berhenti beroprasi ketika chiler tersebut rusak/ perlu dimatikan saat maintenance.

Pada saat membuat sebuah desain sistem perlu di perhatikan kemungkinan terburuk dan alternatif untuk menanganinya. Karena itu diperlukan sebuah redundundacy plan untuk mengambil keputusan tersebut. Karena chiller merupakan sebuah equipment yang dapat rusak dan sangat krusial untuk proses maka diperlukan backup untuk mengantisipasi hal tersebut.

Beberapa alternatif redundacy plan yang kadang dipakai:

  • Membagi kapasitas chiller menjadi beberapa unit; dengan cara ini andai sebuah chiller rusak / dalam perbaikan maka kapasitas tidak akan berkurang seluruhnya, melainkan hanya sebagian. Apabila dibagi 2 maka berkurang jadi 50%; apabila dibagi 3 maka berkurang menjadi 33%, begitu selanjutnya. Cara ini dianggap yang paling murah karena tidak menambahkan total kapasitas. Tetapi cara ini tidak dapat mempertahankan kapasitas 100%
  • Menambahkan sebuah chiller sebagai backup; Metode ini disebut N+1 yakni menambahkan sebuah backup equipment 100%. Sehingga ketika sebuah chiller rusak maka tetap dapat beroprasi sepenuhnya. Kekuranganya adalah biaya yang ditambahkan menjadi dua kali lipat. Tentu saja metode ini adalah yang paling mahal.
  • Membagi kapasitas chiller, kemudian menambahkan 1 (tetap N+1) ; Dengan metode ini kita menggunakan beberapachiller yang lebih kecil dengan penambahan unit sebagai backup. Dengan metode ini apabila kita membagi menjadi 2 maka hanya dibutuhkan 3 chiller sehingga kita hanya membeli 1.5 kali lebih besar.

Metode apa yang paling cocok digunakan? Semuanya bergantung pada kepentingan chiller dalam gedung / proses tersebut, apakah memungkinkan pengurangan kapasitas. Apakah dengan membagi menjadi lebih banyak chiller kita mendapatkan harga yang sama USD/TR nya.

Pada umumnya sebuah sistem chiller menggunakan metode ke 3, dimana kapasitas yang dipilih adalah 2x500TR + 1x500TR sebagai backup. Pemilihan ini dianggap ideal karena tidak terlalu banyak chiller yang digunakan dan tetap dapat mempertahankan kapasitas 100% apabila terjadi kerusakan/ perbaikan. Mana menurut kamu yag paling cocok?

Titian Pramudya

2 tanggapan untuk “N+1; rahasia menjaga kehandalan sebuah sistem

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s