Technical

5 Langkah menyalakan Chiller

Ketika kita berbicara mengenai equipment yang besar, maka sangat perlu diperhatikan bagaimana cara pengoprasiannya, apa saja langkah langkah yang perlu di lakukan dan tahapannya. Sebuah sistem chiller / chiller plant mempunyai berbagai macam equipment yang mendukung satu sama lain, sehingga ketika salah satu pendukung nya tidak bekerja maka muncul kemungkinan yang tidak diinginkan. Berbeda dengan sistem VRF yang sudah serba “otomatis”, sistem chiller tidak semudah menyalakan remote AC dan mendapatkan dingin.

Sebuah bangunan yang menggunakan Chiller sebagai pendingin utama memerlukan operator khusus yang dapat menganalisa dan mengoprasionalkan sistem tersebut. 5 langkah ini penting untuk dilakukan secara ber-urutan untuk mendapatkan hasil yang baik. Waktu yang diperlukan pun tergantung terhadap posisi equipment, dan kapasitas equipment itu sendiri. Pada sistem chiller/ Chiller plant yang menggunakan otomatisasi tahapan tahapan ini sudah dibuat semudah mungkin.

Berikut tahapan / langkah langkah yang perlu dilakukan sebelum menyalakan sebuah Chiller:

  1. Perhatikan situasinya, dan pastikan bahwa tidak terdapat alarm yang sebelumnya. Ada kemungkinan chiller tersebut tidak menyala karena terjadi kerusakan / malfunction saat bekerja sebelumnya. Apabila hal itu terjadi, maka kita tidak mau menyalakan kembali sampai kita yakin bahwa memang chiller tersebut dimatikan dengan benar sebelumnya. Periksa kembali setting chiller apakah sudah sesuai dengan keinginan.
  2. Memberikan beban, untuk sebuah chiller dapat bekerja diperlukan beban pada sistem chiller. Cara yang biasa dilakukan adalah menyalakan sebagian AHU untuk membantu chiller mengenali target yang di inginkan. Berapa banyak AHU yang dinyalakan tergantung dengan kapasitas chiller tersebut. Pastikan juga valve ke AHU terbuka ketika memberikan beban AHU.
  3. Menyalakan pompa, dengan menyalakan pompa maka beban tersebut akan di distribuskan ke sistem dan air pendinginan akan mengalir ke dalam chiller. Periksa kembali beberapa waktu kemudian apakah flow yang mengalir sudah sesuai dengan design yang diinginkan. Pompa Primary, Secondary, dan cooling tower (apabila menggunakan watercooled chiller). Proses pergerakan air juga bergantung pada panjang pipa dan volume air yang dialirkan.
  4. Menyalakan Cooling tower, langkah ini hanya berlaku apabila chiller yang dipakai menggunakan watercooled chiller. Ketika menyalakan cooling tower perlu juga diperhatikan apakah cooling tower tersebut bekerja dengan benar, jumlah air yang cukup dan fan yang berputar dengan baik.
  5. Menyalakan Chiller, apabila semua langkah sebelumnya sudah dilakukan maka chiller dapat dinyalakan. Ketika chiller mulai berjalan, perhatikan suara suara dan getaran yang abnormal dan tunggu sampai chiller tersebut berjalan normal. Apabila ketika berjalan terdapat alarm, maka pastikan untuk memperbaiki alarm tersebut.

Ke lima langkah tersebut dan parameter yang diinginkan sebaiknya di letakan dekat chiller sehingga operator dapat mudah mengikuti langkah demi langkah. Perhatikan juga waktu yang diperlukan untuk mencapai temperatur gedung yang diinginan, hal ini penting untuk mengantisipasi kapan perlu menyalakan chiller. Pada kondisi tertentu seperti hari Senin (biasanya chiller off Sabtu & Minggu) membuat air pendinginan lebih panas daripada hari lainnya membuat waktu pendinginan lebih lama.

Untuk mematikan sistem chiller / chiller plant dengan baik lakukan kebalikan dari langkah tersebut.

Titian Pramudya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s